Feb 21, 2013

DIA = AKU ~



Kelas 1
Gadis kecil berambut keriting itu datang terlalu pagi, di saat ruang kelasnya masih kosong. Dia berjalan mendekati bangku yang sejak hari pertama ia masuk sudah dipilihnya, yaitu bangku nomor dua dari depan. Awalnya ia duduk manis, terdiam membisu, kemudian keluar kelas, lalu masuk lagi. Bosan. Di puncak kebosanannya, matanya menumbuk ke sebuah rak buku yang dipunggungi oleh kursi guru.
Gadis keriting berjalan dan perlahan ia menggeser kursi guru yang menghalangi rak buku itu. Tangannya mulai bergerak menyusuri jajaran buku-buku cerita tipis. Matanya terus membaca judul demi judul. Ia girang sekali seolah-olah telah menemukan harta karun yang tak pernah ditemukan oleh bajak laut. Ia mengambil sebuah buku berjudul Gadis Penjual Korek Api. Dibawanya buku itu ke tempat duduknya dan tak lama ia hanyut ke dalam dunia fantasinya bersama si gadis penjual korek api. Begitulah setiap pagi, rak bersama buku-buku cerita itu menjadi kawannya menunggu teman yang lain datang. Ia nyaman dengn daya imajinasinya yang tumbuh karena dongeng-dongeng itu.

Pernah suatu ketika, ia diminta untuk membacakan sebuah cerita, berjudul "Dino yang Malas". Karena terbiasa membaca cepat di dalam hatinya, ia pun bertindak demikian di depan kelas. Suaranya tidak terlalu keras dan cepat sekali ia membacanya hingga Ibu Guru berkata, "Sudah pintar membaca, ya. Sampai-sampai seperti kereta api."
Ia malu mendengarnya, apalagi teman-teman satu kelas menertawakannya. Sejak itu rasa percaya dirinya mulai berkabut.


Kelas 2
Di kelas baru gadis keriting tidak ada rak dan buku seperti di kelas 1. Namun ia tetap menyempatkan dirinya untuk singgah di kelas lamanya hanya untuk sekedar membaca atau mencari buku baru ketika ia menunggu jemputan yang biasanya selisih 1 jam lebih lama dari bel pulang. Ya, mamanya bekerja di kantor yang cukup jauh dari sekolahnya. Sedangkan bapaknya bekerja di luar kota.
Semenjak ia naik kelas 2, jarang sekali ia datang pagi. Malah pernah satu kali ia terlambat hampir 30 menit. Ketika ia memasuki lingkungan sekolahnya, sudah sangat sepi, pintu-pintu kelas tertutup dan samar-samar terdengar riuh rendah interaksi guru dengan murid. Ia berlari-lari kecil menuju ruang kelas 2. Oh tidak, itu suara Bu Ngarpiah, guru yang paling galak di sekolah itu. Dengan jantung yang berdegup sangat kencang, ia mengetuk pintu dan membukanya perlahan. Kelas yang tadinya cukup ramai, kini hening dan semua mata menatap kepadanya. Wajah si gadis keriting pucat pasi namun terlihat tegar. Ia berkata, "Maaf Bu, saya terlambat. Tadi ban motornya bocor."
Bu Ngarpiah menjawab santai namun menggelegar, "Ya sudah tidak apa-apa, tapi sekarang kamu belajar dulu ya di luar sampai nanti jam istirahat."
Oh Tuhan, gadis keriting itu dihukum buang. Ia tidak tahu harus berbuat apa dan langsung berjalan keluar lewat pintu belakang kelas. Malu sekali ia, apalagi ketika ada beberapa orang yang melintas, pasti bertanya, "Lho, kok di luar to?"
Dia hanya menjawab malu-malu, "Iya, saya terlambat tadi."
Sejak kejadian itu, ia selalu minta pada mamanya agar diantar lebih pagi dan lebih cepat daripada biasanya.

Kelas 3
Nah, tahun ajaran baru ini merupakan tahun awal diberlakukannya sistem Semester, menggantikan sistem Caturwulan. Gadis keriting tidak peduli dengan sistem itu. Yang ia tahu, mulai tahun ini pembagian rapor hanya dua kali dan itu berarti ia tak perlu melewati banyak ulangan umum.
Di tahun ini pula ada pelajaran baru, yaitu IPS dan IPA, yang sebelumnya belum pernah ia dapatkan di kelas 1 dan kelas 2. Tahun ini juga pertama kalinya ia menggunakan bolpoin dan tipe-x, benda yang tadinya hanya ia lihat di tempat pensil sang ibu.
Gadis keriting semakin giat belajar, apalagi saat belajar IPS dan seni musik.
Kedua pelajaran favoritnya ini selalu menjadi bahan pembicaraan ketika di rumah. Mungkin mama dan nenek, bahkan pembantunya sampai bosan mendengarkan cerita yang itu-itu saja. Namun ia tak peduli.
Ia pun semakin kritis dan suka bicara. Bertanya apa saja yang ingin ia tanyakan. Bapak gadis ini sampai menjulukinya anak cerewet. Ia tak peduli, malah bangga dengan sebutan itu. Aneh.
Pertama kalinya ia diajak oleh kakak kelasnya untuk join grup marching band di sekolahnya. Menurutnya keren, jadi ia mau, meskipun hanya menjadi penari saja. Ia senang sekali karena sering ikut di beberapa karnaval dan perlombaan.

Suatu ketika, ia duduk bersama dengan teman laki-laki yang terkenal nakal dan jahil. Sebut saja Bombom. Ia terpaksa duduk bersamanya di bangku paling belakang karena hanya disitu lah bangku yang masih tersedia.
Tiba-tiba, Bruk!
"Aduh sakit tau!!"
Gadis keriting didorong oleh Bombom hingga terjatuh dari kursinya. Bombom dan teman-teman lain yang berada di dekat situ menertawakannya seolah-olah itu adalah tontonan sirkus. Sejak saat itu si gadis keriting membencinya dan takut apabila berada di dekatnya.

Kelas 4
Setahun berlalu dan meninggalkan banyak kisah konyol. Kini ia berada di tingkat 4, merasa hampir menadi senior karena sudah mempunyai 3 adik angkatan. Di tahun ini juga, tingkahnya sudah seperti ABG saja. Menyukai dan merasa disukai seseorang. Ya, ada siswa baru berasal dari luar kota, sebut saja Gororo. Gororo berbadan cungkring, putih, dengan rambut sasak. Seragamnya 1 ukuran lebih besar daripada ukuran badannya. Setiap hari dia membawa sepedan dalmationnya ke sekolah. Memang sih, rumahnya cukup dekat.
Entah ada angin apa tiba-tiba terdengar gosip bahwa Gororo menyukai Si Gadis Keriting. Wah, semenjak itu mereka berdua menjadi bahan olok-olokan satu kelas. Rasanya malu sekali jika si gadis keriting bertemu dengan Gororo. Apalagi jika kebetulan dimasukan ke dalam satu kelompok belajar.
Banyak tangan-tangan jahil yang mencorat-coret papan tulis dan buku mereka dengan tulisan "Gororo love keriting", dan sejenisnya.
Astaga, anak-anak.

Seperti sebelum-sebelumnya, Gadis kertiting tidak mau kalah dengan saingannya. Sebut saja Dara. Baik dalam nilai akademik, ranking kelas, les, bahkan barang-barang.
Ketika Gadis Keriting pulang dari berkunjung ke rumah Dara dan melihat ada Electone (alat musik semacam organ), ia langsung merengek-rengek minta dibelikan. Orang tuanya hanya menggeleng-geleng, menolak, karena baru bulan lalu ia juga memaksa minta dibelikan komputer.
"Huh, Mama sama Bapak pelit! Masa Dara aja punya, aku enggak? Dara juga les tuh, makanya pintar main musik. Nggak kayak aku!"  rengekan memaksa seperti itu sering terlontar dan membuat pekak telinga Mamanya. Akhirnya, dibelikan pula lah ia sekaligus dileskan di Yamaha Music Course.
Les ini itu dituruti, minta ini itu dituruti. Sudah puaskah, hai Gadis Keriting yang manja?

Kelas 5
Beberapa langkah lagi menuju seniornya senior. Di kelas 5 ini sekolah si gadis keriting sudah mengadakan pelajaran tambahan sepulang sekolah. Hal ini berguna agar ketika murid-murid sudah memasuki kelas 6, ia sudah terbekali dan sudah terbiasa dengan adanya jam pelajaran tambahan.
Gadis keriting cukup senang karena waktunya di sekolah mejadi lebih panjang. Itu berarti waktu bertemu dengan teman-temannya menjadilebih lama.
Ada murid baru juga, sebut saja Alvino. Dia juga berasal dari luar kota. Seorang keturunan Tionghoa, sipit, putih, dan terlihat cool. Namun si gadis keriting tidak tertarik. Ia masih bertahan dengan olok-olok "Gororo love keriting" karena Gororo memang sangat baik kepadanya, bahkan memberi walau tidak diminta.
Si Gadis Keriting tak pilih-pilih teman, baik itu laki-laki atau perempuan, ya sama saja. Bagaimana tidak, hanya ada 9 perempuan termasuk dirinya di antara 30an murid kelas 5.
Sudah dari kelas 3 dia tidak mau dijemput oleh orangtuanya, kecuali jika ia sedang malas. Ia terpengaruh oleh ajakan teman-temannya untuk pulang sendiri naik angkutan umum. Meskipun awalnya dilarang, namun setelah dipertimbangkan akhirnya disetujui juga.
Sebenarnya ada beberapa alasan ia tidak mau dijemput lagi: 1. Jika Mamanya yang jemput, ia harus rela tinggal sendirian di sekolah karena si Mama lama sekali datangnya, 2. Jika Bapak yang menjemputnya, ia harus rela tidak bermain dulu di sekolah bersama kawan-kawannya karena Si Bapak sudah standby di depan sekolah bersama motornya ketika bel sekolah belum berbunyi sekalipun. Great, 3. Terkadang ia dicap sebagai anak mami karena selalu diantar jemput.
Nah, itulah mengapa si gadis keriting lebih memilih pulang naik angkutan umum.

Demikian juga ketika ada ekstrakurikuler marching band. Ia lebih suka berangkat naik sepeda. Hampir semua anak yang mengikuti ekskul itu membawa sepeda. Apalagi kakak kelasnya. Cool. Sehabis latihan juga bisa bersepeda bareng-bareng di lapangan sekolah. Di grup marching band ini si gadis keriting sudah bukan seorang penari lagi, namun ia dipilih menjadi pemain balera sejak kelas 4.

Kelas 6
Ini dia tahun terakhir gadis keriting di sekolah dasar. Mengingat hal ini ia sempat sedih karena harus berpisah dengan teman-temannya. Apalagi ketika ia menanyai satu per satu teman-temannya, “Kamu mau ngelanjutin ke SMP mana besok?” Hanya satu orang yang ingin masuk ke sekolah lanjutan yang sama dengannya. Namanya Ron (bukan nama sebenarnya). Nah, Ron adalah idola si gadis keriting. Menurutnya, Ron adalah laki-laki terganteng di sekolah ini. Bahkan sempat ada konflik dengan adik kelas yang juga menyukai Ron. Aduh, dasar anak-anak.
Lucunya, meskipun satu kelas, Ron dan si gadis keriting saling berkirim surat. Surat itu tidal langsung diberikan kepada yang bersangkutan melainkan lewat perantara. Orang yang menjadi perantara itu adalah sahabat Ron, sebut saja Dandi. Setiap habis mengantarkan surat, Dandi selalu dibelikan jajan. Astaga masih kecil sudah pintar bernego. Berkat bantuan Dandi, akhirnya si gadis keriting mendapatkan pujaan hatinya. Mereka berpacaran. Ah, lebih tepatnya berteman dekat, kan? Karena berstatus pacaran ketika masih SD adalah hal yang tabu dan tak layak diperbincangkan.
Kegiatan di kelas 6 lumayan dinikmati oleh si gadis keriting. Mulai  dari penataran dokter kecil, pramuka, lanjutan pelajaran tambahan, lomba mata pelajaran, lomba paduan suara, lomba marching band, try out, hingga latihan ujian praktek.
Gadis keriting itu kerap ditunjuk oleh guru untuk mewakili sekolah dalam mengikuti beberapa lomba. Baik yang berkelompok seperti paduan suara, cerdas cermat dokter kecil, maupun individual seperti lomba berbahasa Indonesia, lomba mengarang, dan sebagainya.
Kalah menang sudah biasa, namun beberapa piala pernah ia sabet dan diberikan kepada sekolah dengan bangganya. Menurut wali kelas dan beberapa guru yang pernah mengajarnya, si gadis keriting lebih menonjol dalam bidang bahasa namun kurang ahli dalam keterampilan tangan dan seni suara.

Ujian akhir pertama dalam hidup si gadis keriting terlewati sudah. Ia cukup puas dengan NEM yang ia dapat, sehingga ia dapat masuk ke SMP keinginnannya. Ternyata hanya ia sendiri yang terdampar di sekolah lanjutan itu. Kehidupan barunya akan segera dimulai dari nol lagi, dengan teman-teman baru yang belum pernah ia temui sebelumnya.

**

Ya, itulah cerita tentang gadis keriting di masa SD-nya. Gadis keriting itu adalah aku. Aku yang sudah lebih dari 6 tahun meninggalkan seragam putih merahku. Aku yang kini sudah cukup bosan dengan sesuatu yang disebut dengan pelajaran. Aku yang sudah tak semanja itu lagi sejak adikku bersikap lebih manja dari aku.
Hanya sepenggal yang bisa diceritakan, karena 6 tahun sekolah di sana itu bisa dijadikan sebuah buku apanbila ditulis mendalam, termasuk menceritakan kehidupan masa kecilku.
Kau tau, aku merindukan masa-masa itu. Rindu sekali ketika masih minta dibelikan buku tokoh dunia, komik, dan mainan-mainan yang mudah rusak itu. Rindu ketika aku merasa senang saat pembantuku cuti (itu membuat mamaku tinggal di rumah lebih lama). Rindu ketika aku dipaksa tidur siang oleh nenekku yang siaga dengan sapu lidinya. 

OH YES I REALLY MISS MY CHILHOOD ~~

Feb 20, 2013

[FICTION] ROMEO & JULIET




Belum genap sepuluh menit sejak bel pulang berbunyi, kelas 2 IPS 1 ini sudah terlihat lengang. Hanya ada beberapa gelintir siswa yang masih sibuk memebereskan buku dan alat tulisnya.
Raras terlihat bersemangat sekali siang ini, tak seperti biasanya. Sesekali ia meleparkan pandangnnya ke arah Robi, Si Ketua Kelas. Menyadari ada sepasang mata yang berkali-kali memperhatikannya, Robi pun menoleh berusaha manengkap mata itu.

"Hei, Ras. Udah selesai? Jadi kan kita hari ini?" tanya Robi akhirnya. Ia berjalan mengampiri Raras sambil menyampirkan tas ransel di pundaknya.
Senyum Raras merekah dan kepalanya mengangguk cepat.

"Ayo, Bi, buruan," ujarnya. Tangan Raras menggamit lengan Robi dan keduanya melenggang meninggalkan kelas yang sudah benar-benar kosong ini.
Aku menyunggingkan senyum melihat adegan itu. Rasanya senang sekali melihat gadis manis itu bersama dengan pujaan hatinya. Romeo dan Juliet.

"Hei, Tuan Tembok, kenapa kau senyum-senyum sendiri, hah? Jangan seperti orang bodoh!" Suara Nyonya Jam mengagetkanku. Terdengar pula cekikikan dari anak-anak kapur dan Nona Vas Bunga.

"Oh. Aku hanya meraasa senang melihat Raras dengan Robi, Nyonya. Bukankah mereka terlihat sangat serasi?" jelasku.

"Biasa saja," ujar Nyonya jam tersenyum seadanya.  Anak-anak kapur berloncatan girang di dalam kotaknya, hanya sukacita saja yang mereka tahu.

***

"Kita mau makan siang dulu atau langsung cari buku, nih?" tanya Robi lembut.
"Terserah kamu aja, Bi. Kamu udah lapar?" jawab Raras.
"Sebenernya sih udah lumayan lapar. Tapi mending cari buku aja dulu deh, Ra. Soalnya pasti nanti jadi lapar lagi," ujar Robi sambil tertawa.

Raras mengiyakan dan ikut tertawa bersamanya. Metromini yang penuh sesak itu tudak membuat keduanya merasa gerah dan kesal. Mereka begitu menikmati saat-saat kebersamaan mereka dimanapun dan dalam situasi seperti apapun.

"Ras, gimana pendapatmu kalau aku ikut dalam pemilihan ketua osis periode ini?" tanya Robi hati-hati. Dia tahu bahwa kekasihnya ini kurang suka dengan aktivitasnya yang bejibun.
"Hm, terserah." Dugaan Robi benar. Raras langsung memalingkan wajahnya.
"Jutek banget jawabnya. Nggak suka, ya?"
"Ya gitu."
"Kenapa?"
Raras menghela nafas berat, "Bukannya aku nggak suka, tapi aku khawatir. Kamu udah ikut banyak kegiatan di sekolah, jadi pengurus OSIS aja udah sibuk banget, gimana nanti kalau jadi ketua? Aku takut kamu nggak ada waktu lagi buat aku."
"Kenapa kamu jadi sedikit egois gini, Ras? Ini seperti bukan Raras yang aku kenal," tegur Robi halus. Raras membisu. Seperti memikirkan sesuatu tapi sebenarnya tidak ada yang dipikirkan.
"Ras? Kok diam?"
Raras tetap membisu. Percakapan mereka dipaksa berhenti oleh keheningan yang menyelimuti dua insan itu.

Perjalanan menuju mall menjadi sepi, tak seceria ketika pulang sekolah tadi. Ada rasa bersalah dalam benak Robi. Ia menyadari bahwa ia membahas hal ini di waktu yang salah.
Metromini berhenti beberapa meter dari gerbang mall. Robi menggandeng Raras dan mengajaknya turun.

Tanpa sepatah katapun keluar dari mulut masing-masing, hanya genggaman tangan yang masih menjadi media untuk menyaurkan kasih mereka.
Sejuknya pendingin ruangan menerpa wajah mereka ketika menapaki sebuah tempat yang luas dan banyak prang wara-wiri dengan tas belanjaan mereka.

"Yuk, Ras, langsung ke Gramedia aja ya kita," kata Robi membuka pembicaraan.
Raras tersenyum dan menggenggam tangan Robi lebih erat.
Obrolan hangat mulai ditawarkan, laksana ingin mengungguli dinginnya AC mall. Tak jarang candaan-candaan renyah turut dilontarkan. Kebekuan yang sempat mebisukan mereka kini telah mencair seperti menyambut kedatangan musim semi.


***

Pagi ini kulihat Robi datang sangat awal. Bahkan kurasa hanya selisih beberapa menit dari kedatangan Pak Bon, tukang kebersihan sekolah.
Terlihat gugup dan wajahnya muram. Matanya tak lepas dari layar handphone. Seperti menunggu pesan dari seseorang.

Aku melempar pandangan ke sekeliling. Nyonya Jam yang biasanya banyak berbicara, kini terlihat diam. Anak-anak kapur asik bermain sendiri. Tuan Papan Tulis juga terlihat tak acuh. Hanya Nona Vas Bunga yang sama sepertiku, memeperhatikan kekasih Si Gadis manis idolaku.

Jarum-jarum di tubuh Nyonya Jam terus bergerak tanpa henti. Siswa-siswi lain sudah berdatangan, beberapa menyapa Robi. Robi menjawab sekenanya dan raut mukanya tak berubah sejak ia datang. Pesan yang ia tunggu tak kunjung datang karena sedari tadi aku tak mendengar handphone mutakhirnya berteriak menandakan adanya pesan atau telepon masuk.
Aku menduga, pasti Robi sedang menunggu sesuatu dari Raras.

Nah, benar kan. Tak berapa lama Raras datang. Sama seperti Robi, wajahnya terlihat kuyu seperti senter yang kekurangan daya baterai.
Bukannya gembira dengan kedatangan Raras, ia malah kesal.

"Lama banget datangnya, Ras. Kamu nggak tahu ya kalau udah aku tungguin dari tadi? Kesiangan bangunnya? SMSku nggak dibalas juga," cerocos Robi.
Raras tak kalah sewotnya, “Nggak bisa bicara pelan-pelan lo? Baru sebentar tinggal di Jakarta, ya? Nggak pernah ngerasain macet? Lo pikir gue santai gitu dateng ke sini?”
Mendengar nada bicara Raras yang meninggi, aku terhenyak. Bahkan ‘aku’ dan ‘kamu’ yang biasa aku nikmati dalam obrolan mereka sudah berubah menjadi ‘lo’ dan ‘gue’.  Semua mata yang ada di situ menatap ke sumber suara. Robi mengernyitkan kening dan lewat pandangan matanya, memaksa Raras untuk segera duduk. Raras menangkap isyarat yang diberikan Robi namun tak peduli lagi dengan tatapan bingung teman-temannya. Jika dikartunkan, kurasa sudah keluar uap panas dari ubun-ubun Raras.

“Tuan Tembok, lihat, gadis idolamu bertingkah seperti monster ubur-ubur!” teriak anak-anak kapur. “Tutup mulut kalian, Anak-anak. Aku tidak suka apabila ada yang mencemooh gadis idolaku. Kalian tidak tahu apa masalahnya, bukan?” tangkisku.
“Oh, lalu apakah kau tahu permasalahan mereka, Tuan?” ejek Tuan Papan Tulis tak senang.
“Ssssssh,” dengusku, “hentikan, hentikan!”

Kudengar semua teman-temanku menertawakan aku, tapi aku acuhkan. Kupandangi sedih sosok mereka berdua. Romeo dan Juliet yang aku puja. Panggung sandiwara di hadapanku kini tengah memperlihatkan sisi lain dari keromantisan kisah mereka. Sepanjang hari tak ada kata-kata mesra yang terdengar, kontak fisik pun tidak. Ada sekat tak terlihat di antara mereka.

Jam pelajaran terkahir yang mengasyikan, yaitu kesenian, usai. Kulihat anak-anak kapur terus menari dan bernyanyi bersama Nona Vas Bunga.
“Nona, pelajaran sudah selesai. Anak-anak, kalian bahagia sekali ya rupanya,” ujarku terkekeh melihat tingkah mereka.
Nona Vas Bunga tertawa saja mendengar ucapanku barusan lalu berkata, “Tentu saja, Tuan Tembok. Ini adalah pelajaran yang paling aku suka. Kenapa? Karena menghilangkan jenuh dan melepas beban. Apa kau lihat tadi, pasangan pujaanmu itu juga sudah bergembira menikmati alunan musik yang diajarkan tadi. Semua permasalahan menguap bersama nyanyian dan tarian.”

Aku mengangguk setuju. Kalian tahu? Robi dan Raras tampaknya sudah melupakan masalah tadi pagi. Kini kulihat mereka kembali tertawa lepas seperti biasanya. Jam menunjukan pukul 2 siang dan saat yang paling ditunggu oleh siswa datang juga akhirnya. Bel pulang. Dasar bandel, guru musik belum keluar ruangan pun mereka sudah mendahuluinya. Tidak sopan!
Robi dan Raras tak beranjak dari tempat duduk mereka. Menunggu apa lagi ya, pikirku. Ah, entahlah, mungkin masih malas pulang. Hah? Malas pulang? Tidak mungkin. Ini aneh. 

Setelah kelas benar-benar kosong, Robi menggeser bangkunya, mendekatkan diri ke arah Raras. Tubuhnya diserongkan dan jemarinya menggenggam jemari Raras dengan kencang.
“Gimana, Ras? Hasilnya. Apakah ....” Belum selesai Robi berbicara, Raras sudah menukasnya, “Positif, Bi. Positif. Jadi gimana? Omongan kamu dahulu ternyata bohong. Kamu bilang, ini tidak apa-apa. Tapi nyatanya ...” Suara Raras tersendat. Isak tangis yang berusaha ditahan, namun gagal.

Kuharap aku salah dengar. Kuharap ini hanya sebuah sandiwara. Sandiwara tanpa skenario, tanpa sutradara, tanpa pononton.
Nona Vas Bunga menahan napas mendengarkan pembicaraan mereka. Anak-anak kapur yang biasanya ribut, kali ini terdiam seribu bahasa. Hanya terdengar tik-tok jarum Nyonya Jam yang memang tak akan berhenti kecuali jika baterai habis.

“Jangan menangis, Sayang. Semua ada jalan keluarnya,” bisik Robi. Ia mengecup kening SI Juliet untuk menenangkannya.
“Tapi, nggak seharusnya calon pemimpin berbuat seperti ini, kan? Bagaimana nanti jika .... “
“Sudah, sudah. Aku membatalkan rencanaku itu. Sempat kupikirkan memang, aku terlalu banyak kegiatan di sini. Untuk sekedar mengantarmu pulang pun aku sering banget nggak sempat. Kamu sadar nggak, kalau aku nggak pernah main sama kamu lagi saat malam minggu? Kamu benar, aku nggak punya banyak waktu buat kamu. Aku yang terlalu egois.”
“Bagaimana sekolah kita nanti?” tanya Raras, tak menggubris kata-kata Robi. Pikirannya kalut, tak tahu harus bagaimana nanti. Bagaimana jika orang tuanya tahu? Bagaimana jika teman-temannya tahu?
“Kita akan tetap sekolah kok. Jangan khawatir,” ujar Robi, “aku tahu tempat yang harus kita datangi sekarang. Nggak jauh dari bantaran Ciliwung. Kita ke sana sekarang, ya. Jangan takut.”

Aku terkesiap. Berusaha memahami kata demi kata yang terlontar dari bibir Robi.
“Anak muda jaman sekarang! Tidak tahu malu! Tidak beretika,” cibir Nyonya Jam geram.
“Itukah Romeo dan Juliet-mu yang kaubanggakan itu, Tuan Tembok?” sindir Tuan Papan Tulis tak mau kalah.

Aku mengabaikan segala caci maki dan cibiran teman-temanku. Mataku terus memandangi  makhluk Tuhan yang mulai meninggalkan ruang tak bisu ini, melepas kepergian mereka menuju tempat apa itu namanya, aku pun enggan mencari tahu. Seperti inikah Romeo dan Juliet pujaanku?


*

Feb 19, 2013

JADI HANTU !




Dua sosok hantu itu berdiri di bawah rimbunnya pohon penghias jalan protokol. Angin malam berhembus perlahan menemani rintik-rintik hujan. Tengah malam begini, masih saja ada orang yang lalu lalang melintasi jalan. Tak peduli dengan cerita konyol masyarakat tentang angkernya tempat yang dilalui, mereka tetap saja berkeliaran mencari apa yang ingin dicarinya.
Keempat mata hantu itu memandang sekeliling. "Aku bosan berada di sini," ujar hantu pertama.
"Mengapa bosan? Bukankah rumah kita memang disini?" kata hantu kedua.
"Entah, aku juga tidak tahu. Aku merasa bosan!"
"Lalu apa maumu? Kemana kita?"
"Ikuti aku."
Mereka meninggalkan kediaman semu mereka, berjan menyusuri trotoar yang becek karena air hujan. Melihat hal itu, aku segera berdiri. Seperti dirasuki roh kijang, aku berlari menerobos hujan. Tak cepat namun entah mengapa tiba-tiba aku sudah berhadapan dengan kedua hantu itu.
"Hei, mau kemana kalian?" tanyaku terengah-engah.
"Siapa kau, hai manusia?" tegur hantu pertama.
"Ya." jawabku singkat. Mereka saling memandang. Warna hitam di kelopak dan cekungan matanya sekilas bertambah hitam. Aku bergidik ngeri.
"Tunggu. Mengapa kali ini kalian menggunakan kaki kalian? Bukankah selama ini kalian hanya melayang-layang manja? Oh, maksudku, melayang tanpa beban." kataku gugup.
Tanpa ampun mata mereka menyorot tajam ke arahku. Bulu kudukku meremang seketika.
"Oh, hentikan menatapku seperti itu," gumamku.
"Kau mengusik kami!" desis hantu kedua.
"Tu-tu-tunggu. Bukan seperti itu maksudku. A-a-aku sebenarnya ingin ikut bersama kalian. Oh em, bukan. Maksudku ...." Ah! Mengapa aku menjadi seperti orang bodoh? Untuk berbicara saja sulit. Saraf-saraf otakku membeku.
Aku semakin lemas ketika tiba-tiba mereka menyambar tanganku. Dingin sekali. Seperti es.
Aku tak bisa berbuat apa-apa. Pandanganku kabur. Kakiku .. Oh, ada apa dengan kakiku? Kemana kakiku?
Aku hanya menyadari bahwa aku sedang terbang, melayang-layang di langit yang gelap. Bersama mereka. Bersama kuntilanak-kuntilanak itu.

***

Nah ini sebenarnya fiksi, merupakan penggalan dari mimpiku semalam. Sebenarnya masih ada kelanjutannya, yaitu bertemu Power Ranger dan melihat hantu itu bertarung dengan pahlawan super legendaris. Huh, akhir-akhir ini mimpiku memang aneh. Ga mutu banget. But it's scaring me ><


*

Feb 14, 2013

JANGAN LELAH DAN LENGAH!

Hello again bloggies!
Pagi ini aku mau share sedikit tentang pengalaman rohani. Maaf buat teman-teman yang tidak sama denganku, ini hanya sekedar berbagi kisah dan mungkin ada hikmah yang bisa diambil.

Tadi malam, ga seperti biasanya, aku agak sulit buat terlelap. Memejamkan mata sih iya, tapi otak terus memikirkan banyak hal. Banyak yang mondar-mandir di pikiranku. Aku mencoba buat mendengarkan musik yang *kata orang* bisa menenangkan dan mengundang kantuk lebih cepat. Okesip, aku coba. Udah 45 menitan, tapi tetep aja ga ngantuk, malahan nyanyi-nyanyi ga jelas dan kurasa aku menganggu mereka yang udah ngantuk hahahahaha.
Jadi aku ambil kesimpulan untuk diriku bahwa musik tidak membuat tidur nyenyak, tapi malah bikin aku ga ngantuk.
Nah ga tau kenapa, tiba-tiba seperti ada yang membisiki aku: "Kalau kamu ga pernah meminta, bagaimana kamu mau diberi?"
Aku tersadar, akhir-akhir ini aku jarang berdoa. Aku mulai jauh dari Tuhan, bahkan hari Minggu kemarin aku malas ke gereja. Padahal selama ini aku merasakan berkat-Nya yang melimpah dalam hidup aku. Aku sadar bahwa aku dekat dengan Tuhan hanya ketika aku mendapatkan masalah, banyak pergumulan, dan ketika aku merasa sendiri. Namun ketika aku sedang bersenang-senang bersama kehidupan, secara tak langsung aku menjauhi Dia. Huh, macam apa aku ini.
Tapi aku bersyukur banget, malam itu aku seperti diingatkan. Tuhan benar-benar baik. Dia mengasihi aku, ibarat ayah yang sayang sama anaknya. Saat aku berbuat salah atau mulai keluar jalur, aku ditegur-Nya. Aku diingatkan-Nya. Ga pernah sedetikpun Dia meninggalkan aku.
Aku lalu berdoa.

Mengucap syukur, buat semua yang sudah Tuhan beri sepanjang hidup ini. Berkat, keluarga, dan teman. Bersyukur buat segala yang pernah terjadi dalam hidup aku. Bahkan aku mensyukuri semua masalah dan pergumulan yang ada. Ini salah satu cara agar imanku bertumbuh dan terbentuk menjadi lebih baik.

Memohon ampun, atas semua dosa yang pernah aku perbuat. Baik yang sengaja maupun yang ga aku sadari. Ga ada dosa kecil maupun besar. Semua dosa itu sama.
Memohon dan berharap. Nah, pertama aku minta agar aku diberi bahu yang kuat untuk menopang. Aku ga minta sama Tuhan agar Dia mengambil atau mengurangi masalah yang ada. Aku hanya ingin supaya aku diberi 'kekuatan' untuk mengahadapinya. "Kuatkan aku, ya Tuhan, supaya aku dapat menjalani kehidupanku ini."

Lalu aku minta agar diberi kesehatan dan damai sejahtera. Bukan hanya untukku pribadi, tapi untuk semua orang. Untuk keluargaku, untuk teman-temanku. Dan aku minta agar semuanya dicukupkan. Dicukupkan berkatnya.

Sebenarnya banyak sekali permohonan yang terucap. Permohonan bersifat pribadi ataupun untuk orang banyak. Permohonan yang menurut akal manusia itu tidak logis, aku ga canggung buat mengatakannya.
Ya, kalo kita meminta, kita pasti akan diberi jika itu memang baik buat kita.
Ibaranya gini. Kita sedang butuh uang untuk beli buku, kalo kita ga minta uang itu pada orang tua kita, mana tau mereka kalo kita lagi butuh duit.
Matius 7:7-8      
"Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.
         
Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetuk, baginya pintu dibukakan."

Kalo kita merasa butuh, ya bilang. Tuhan ga pernah bosan mendengar doa kita kok. Ketika kita merasa lemah, ketika kita membutuhkan sesuatu, ketika kita butuh sandaran, berdoa aja.
Mazmur 34:16
"Mata TUHAN tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong;"
Mazmur 34:18
"Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya."

Ga usah ragu, kalian tahu, ada kuasa yang luar biasa lho di dalam doa itu. Jika kita yakin dan tekun berdoa, pasti kamu bakal merasakan tangan Tuhan menjamahmu. Seperti yang kita tau, bahwa dalam berdoa, ada 3 jawaban yang Tuhan berikan yaitu Ya, Tidak, atau Nanti dulu.
Kurasa kalian sudah mengerti apa maksudnya. Di sini aku cuma ingin meyakinkan kalian bahwa jangan ragu kepada Tuhan. Ingat, doa itu nafas orang percaya.
Amin, teman-teman? Amin!

Selamat pagi, selamat beraktivitas!
Tuhan memberkati.

Feb 13, 2013

[REVIEW]: MAMA

Melanjutkan yang sebelumnya ...

Film 2
MAMA

Sepintas dari judulnya kelihatan seperti film keluarga. Tapi ga sikron dengan covernya yang hmmmmm bisa bikin bulu kuduk disco darurat.
Jadi gini. Di awal film diceritakan ada seorang ayah yang sudah membunuh rekan bisnis dan isterinya. Membunuh rekan bisnis mungkin karena ada faktor X ya, tapi kalo membunuh istrinya kayaknya karena ga sengaja gitu deh.
Nah terus si Ayah itu mengajak dua anak perempuannya, Victoria dan Lilly, pergi entah kemana (ga diketahui). Tapi apesnya, mereka jatuh ke jurang. Untunglah di sana ada sebuah rumah kosong jadi mereka bisa menghangatkan diri di situ. Eh si Ayah ini psikopat kali ye, dia mencoba buat menembak anaknya itu. Pas udah mau njedorin, ga tau datang darimana, ada sesosok makhluk yang mencengkeram dia dan akhirnya mati deh.
Selama 5 tahun kedua anak itu hidup hanya berdua di rumah kosong itu.
Sampai suatu saat, saudaranya (Lucas) menemukan mereka dan berniat mengadopsi. Victoria dan Lilly menjalani terapi psikologi karena keadaan psikologis mereka tidak berkembang dengan baik. Iyalah, selama 5 tahun hidup berdua, padahal mereka masih di bawah umur. Ketika diterapi semacam hipnotis itu, Victoria cerita kalo selama ini ada yang merawat dia. Dipanggilnya Mama.
Memang sih, ketika di rumah, banyak banget kejadian aneh yang terjadi. Di kamar, Lilly main tarik-tarikan gorden, padahal Victoria lagi di luar. Nah lho?

Kekasih Lucas, Annabel, juga merasakan hawa yang berbeda ketika Victoria dan Lilly tinggal bersama mereka. Banyak hal yang menakutkan dan tidak masuk akal bagi Annabel.
Samapi pada akhirnya Annabel menyadari ada sesuatu yang terjadi dan ikut dibawa kedua anak itu dari rumah kosong.
Setelah diselidiki, dibantu oleh psikolog dan orang yang memegang arsip rumah sakit jiwa, ternyata diketahui bahwa ada seorang wanita tidak waras yang kabur dan menculik bayi. Dia dikejar oleh warga karena wanita itu juga telah membunuh suster. Dia berlari hingga sampai di ujung tebing. Tanpa pikir panjang lagi ia terjun ke danau sambil tetap menggendong bayinya. Namun sayang, ada dahan pohon sehingga tubuhnya tercabik dan bayinya tersangkut di sana.
Di duga arwah wanita itu mencari-cari si bayi dan akhirnya dia menemukan Victoria beserta Lilly di rumah kosong tersebut.
Nah, bagaimana kelanjutannya? Apakah Victoria, Lilly, Lucas, dan Annabel terlepas dari teror Mama? Apakah Mama dapat menemukan kembali bayi yang dicarinya?

Mendingan nonton dulu aja filmnya. Buat yang emang seneng banget sama film bergenre horor, ini wajib masuk list kamu :D
Beberapa scene:


Copyright © 2014 WELCOME TO MY WORLD !