Mar 1, 2013

[FICTION] KUE BRONIS


Oca mengayuh sepedanya menyusuri jalanan menuju ke sekolah. Tas gendongnya ia taruh di keranjang sepeda. Di boncengan belakang, Oci,  saudara kembarnya, duduk sambil memegangi  kotak berisi kue bronis.Masih jam enam lewat sepuluh menit, jadi jalan masih sepi.
"Oca, udah capek belum? Mau gantian?" kata Oci.
"Ah, belum kok. Baru aja beberapa meter dari rumah," jawab OCa santai.
Oci mengernyitkan dahi. "Beberapa meter? Padahal ini kan sudah setengah perjalanan. Oca mengada-ada saja," gumamnya dalam hati. Biasanya kalau sudah begitu, Oci mendapat giliran memboncengkan kembarannya itu saat pulang sekolah.
Oca dan Oci. Kembar tapi beda. Oca tingkahnya lebih mirip anak laki-laki, fisiknya lebih kuat. Sedangkan Oci, lebih kalem dan lembut. Makanya Oca lebih suka membocengkan Oci dan tidak memaksanya untuk bergantian.
Sesampainya di sekolah, Oca memarkirkan sepedanya di tempat biasa, di bawah pohon besar  di pinggir arena parkir sekolah. Agar tidak kepanasan, alasannya. Hanya ada tiga sepeda, termasuk sepeda mereka, yang terparkir di sana.
"Kita kepagian, ya Ci? Sepi banget nih," ujar Oca sambil mengunci sepeda tuanya itu.
"Kita emang selalu datang kepagian tau, Ca. Ah kamu itu pura-pura aja," jawab Oci disambut gelak tawa mereka berdua. Oca dan Oci bergegas menuju ke kantin sekolah. Di sana ibu kantin sudah menunggu kedatangan mereka.
"Halo, kembar. Hari ini kalian membawa kue bronis apa lagi, nih?" sapa ibu kantin.
"Banyak, Bu. Ada bronis tabur keju, meises, kacang. Dan yang baru, ada bronis selai stroberi nih, Bu," jawab Oca. Oci meletakan kotak plastik berisi aneka kue bronis itu di atas meja.
"Ya sudah, Bu. Kami ke kelas dulu, ya," ujar oci kemudian.
"Baik, anak-anak. Sepulang sekolah jangan lupa diambil ya kotaknya," kata ibu kantin mengingatkan.
"Sip, Bu!" Oca mengangkat ibu jarinya, tanda OK. Oca dan Oci meninggalkan kantin dan berlari berkerjaran menuju kelasnya sambil tertawa-tawa.
Bel pulang sekolah berdering. Si kembar sedang memasukan buku-buku mereka ke dalam tas ketika Rakhel dan beberapa orang temannya lewat di samping meja mereka.
“Hei, anak tukang bronis, laku nggak nih bronisnya?” ejek Rakhel. Dia tertawa dan teman-teman yang mengikutinya ikut cekikikan. Oca menatap sinis ke arah Rakhel, namun kemudian mengabaikannya dan melanjutkan kegiatan beres-beresnya. Rakhel jadi gemas. “Kok diam aja? Oh, aku tau. Pasti nggak laku, kan? “ katanya lagi dengan nada tinggi sehingga satu kelas mendengarnya.
“Maklum lah, bronis nggak enak ya nggak mungkin laku kalau dijual,” timpal seorang teman yang berdiri di belakang Rakhel. Oca mulai terpancing emosinya. Untunglah Oci dan beberapa teman yang lain membujuk Oca agar bersabar dan tidak menghiraukan celoteh Rakhel dan gengnya. Semua tahu, Rakhel adalah anak orang kaya. Ayahnya adalah penyumbang dana terbesar untuk sekolahnya. Makanya, Rakhel merasa berkuasa di kelas. Rakhel dan gengnya tidak disukai oleh semua teman sekelasnya, termasuk Oca dan Oci.
Selesai membereskan bukunya, Oca menarik tangan Oci agar cepat keluar dari kelas. Oca merasa gusar sekali. Bukan pertama kalinya Rakhel mengejek mereka seperti itu dan Oca merasa bahwa ini sudah keterlaluan, padahal ia selalu cuek dan berpura-pura tidak mendengar ocehan Rakhel. Ibu mereka pernah berpesan agar bersabar ketika menghadapi hal semacam itu.

Keesokan harinya, Oca dan Oci berangkat sekolah seperti biasa. Namun kali ini mereka agak kesiangan. DI perjalanan, mereka melihat sebuah mobil berhenti di pinggir jalan. Itu mobil Rakhel. Oca dan Oci terus bersepeda melewati mobil itu. Oca seolah-olah tidak melihat. Dia masih kesal kepada Rakhel. Tetapi kemudian Oci meminta Rakhel agar berhenti. “Stop dulu, Ca. Kayaknya mobil Rakhel mogok. Dan ini sudah lewat dari jam setengah tujuh.” Oca menurut walaupun ia enggan. Oci turun dari sepedanya dan menghamipri Rakhel.
“Kenapa, Ra? Mobilnya mogok ya?” tanya Oci basa-basi.
“Menurutmu?” jawab Rakhel ketus. Oca ingin sekali mengajak Oci pergi dari tempat itu. Tidak disangka, Oci menjawab dengan halus, “Iya. Kalau begitu, ayo ikut berangkat bersama kami. Kamu boleh naik sepeda dan kami jalan kaki saja.”
Oca kaget mendengar perkataan Oci, tapi akhirnya ia salut juga dengan Oci. Rakhel melirik sepeda butut yang masih dinaiki Oca. Oca tersenyum lalu turun dari sepedanya, menawarkan kepada Rakhel. “Maaf ya, sepeda ini memang nggak bagus, tapi setidaknya kamu nggak terlambat ke sekolah.” Rakhel terperangah melihat sikap si kembar. Mereka tetap baik kepadanya meskipun terus diejek olehnya. Rakhel merasa bersalah atas sikapnya selama ini.
“Nggak usah, kita jalan bareng aja, ya. Masa’ aku naik sepeda, sedangkan kalian jalan kaki. Nggak adil, kan?” katanya tersenyum. Oca dan Oci saling melirik namun akhirnya mengangguk setuju. Mereka berjalan bersama-sama menuju sekolah dan Rakhel meminta maaf kepada si kembar.
“Ini, kuberi kamu kue bronis. Enak lho. Sebagai persahabatan kita, Ra,” ujar Oci. Rakhel berterima kasih dan menerimanya dengan malu-malu. Sejak saat itu sikap Rakhel berubah, menjadi ramah, baik hati, dan manis seperti kue bronis si kembar.

* *

0 comments:

Post a Comment

Copyright © 2014 WELCOME TO MY WORLD !